Tekno

DNA Jadi Bentuk Hard Drive di Masa Depan

Perubahan tehnologi memaksa area untuk menyimpan data selalu berkurang. Usaha paling baru memberikan indikasi satu penyimpan data dapat memiliki ukuran molekul DNA (deoxyribonucleic acid). Satu pasang ilmuwan dari Universitas Columbia serta New York Genome Center barusan mengetest peluang DNA layaknya penampung data. Akhirnya bagus. Mereka sukses menyisipkan data dengan ukuran system operasi, dikombinasi dengan satu film, kartu hadiah Amazon, serta berkas digital yang lain kedalam DNA. Satu pasang ilmuwan tersebut, juga sukses menarik kembali himpunan data tadi dari DNA yang mereka gunakan.

DNA Jadi Bentuk Hard Drive di Masa Depan

Kami memetakan data tadi ke beberapa nukleotida DNA. Lantas kami menjadikan satu nukleotida serta menaruh molekulnya didalam tabung uji. Nukleotida sendiri yaitu molekul organik yang mengikat blok material genetik seperti DNA serta RNA (ribonucleic acid). Pada uji coba ini, Elrich serta Zielinski menggunakan pendekatan DNA Fountain. Satu pendekatan dengan rencana matematika. Kiat ini menolong mereka membungkus semua data dengan cara runut kedalam DNA. Pemakaian DNA sebagai penyimpan data memanglah telah dilirik beberapa ilmuwan mulai sejak jauh-jauh hari. Argumennya gampang. Pertama, ukuran DNA berulang-kali lebih kecil di banding penyimpan data yang ada saat ini. Ke-2, DNA miliki ketahanan mengagumkan.

Erlich serta Zielinski mencatat satu gr DNA dapat menaruh 215 ribu kali lipat dari satu hard drive berkapasitas satu terabyte dengan berat 150 gr. Dengan daya sebesar itu, jumlah DNA yang dibutuhkan untuk menaruh data di semua dunia tidak bakal mengonsumsi ruangan kian lebih satu mobil. Masalah ketahanan, DNA juga tambah lebih superior di banding medium yang lain. DNA telah sering jadikan bahan rujukan mencari tahu jati diri seorang sampai ke leluhurnya. Terbaru, peneliti memakai DNA untuk mengkloning Mammoth, nenek moyang Gajah yang telah punah.

Riset Erlich serta Zielinski diilhami oleh langkah kerja service film on-line seperti Netflix. Pada service Netflix, himpunan data mengalir berbentuk paket-paket kecil sampai hingga di monitor pemakai. Apabila di dalam jalan ada data yang hilang, Netflix bakal mengulang sistem itu. Meski sekian, ilmuwan sekarang ini masihlah belum dapat menjejali data dalam ukuran yang semakin besar ke DNA. Mereka masihlah mesti memotong data supaya lebih kecil hingga dapat masuk dengan resiko sebagian data dapat hilang.

Erlich memprediksi perlu saat kian lebih sepuluh th. supaya DNA betul-betul dapat digunakan sebagai pilihan penyimpanan. Kita masihlah di step awal, namun media penyimpanan yang ada sekarang ini juga perlu saat penelitian bertahun-tahun sampai betul-betul bermanfaat.

Iklan